Selasa, 05 Juli 2011

DAN KEMATIAN MAKIN AKRAB


   Subagio Sastrowardoyo adalah seorang penyair terkemuka Indonesia. Sajaknya dan kumpulan sajaknya beberapa kali mendapat penghargaan. Tahun 1966/1967 sajaknya yang berjudul “Dan Kematian Akrab” merupakan pemenang hadiah majalah Horison. Tahun 1971 Subagio menerima Anugerah Seni untuk kumpulan sajaknya Daerah Perbatasan (1970). Tahun 1991 Subagio menerima Hadiah Sastra ASEAN untuk kumpulan sajaknya Simfoni Dua (1990).

DEPRESI ANAK DAN REMAJA


   Depresi sering dialami oleh seseorang yang terlalu banyak mengikuti kegiatan yang itu-itu saja. Misalnya saja, pada usia lima tahun, seorang anak harus mengikuti berbagai macam kursus. Misalnya mulai dari les bahasa Inggris, musik, tata boga, dll. Setiap hari pasti ia akan mengulangi aktivitasnya tersebut, hingga akhirnya ia tak punya waktu untuk bermain.

CEKI LAWO DI MASYARAKAT CIBAL


   Ketika itu pada masa pemerintahan raja-raja kedaluan di daerah Manggarai tepatnya kedaluan Cibal, terjadi gagal panen secara besar-besaran. Pada saat itu, kedaluan Cibal dipimpin oleh Kraeng Paju Lae. Beliau adalah seorang pemimpin yang bijaksana dan baik hati. Sebagai seorang pemimpin Kraeng Paju tidak ingin melihat rakyatnya menderita kelaparan.

HARI DAN HARA: KARYA SUBAGIO SASTROWARDOYO



HARI DAN HARA*
     Pada pertemuan begini mesra
     tugas kita hanya mengalami
     tanpa berkata-kata
     dan membiarkan air liur mengaliri kulit ari

Budaya Lima Lampek


   Lampek dipakai oleh orangtua di zaman lampau (orang Manggarai) sebagai alat potong. Fungsi utama Lampek ialah alat poro putes (potong tali pusat). Ketika seorang manusia lahir ke dunia, pengalaman yang pertama kali ialah poro putes. Poro putes (potong tali pusat) seorang bayi ini dijadikan sebuah ritual adat Manggarai yang berjalan turun temurun sejak nenek moyang. Lampek sebagai alat potong dianggap dan diyakini sebagai alat yang membahayakan sebuah kehidupan orang Manggarai, maka pada gilirannya nama Lampek dipakai sebagai sebuah nama Budaya Manggarai. Lampek diyakini sebagai alat potong, sehingga keseluruhan proses perjalanan hidup sekelompok manusia di zaman itu tunduk dan taat dibawah budaya Lampek.